Jumat, 14 September 2012

Budaya Beli Buku

          " Yog, buku kuliah nya mana ?"
          " Kaga ada buku"


    Sentak terkejut ketika kemaren gue dan kawan2 Stand Up lagi bahas tentang komersialisasi pendidikan pada sore hari menjelang open mic + talkshow @KFC Pondok Indah, dan siang ini ibu gue menanyakan hal yang mungkin maksud beliau adalah mengklarifikasi kebutuhan karena keadaan finansial kami yang berantakan. Tapi apakah kalian sadar bahwa sepertinya bukan emak gue doang yang bertanya hal seperti itu, ketika kalian memasuki jenjang pendidikan baru ataupun naik kelas, selalu keluar pertanyaan dari orang tua kita seperti :

          " Bayar buku nya berapa ?"

          Jangankan orang tua, bahkan kalian juga menanyakan hal itu sebelum orang tua kalian berinisiatif, ini menjadi sebuah budaya dalam pendidikan sekarang bahwa kalau mau belajar, ya beli buku, atau yang bisa gue bilang "Budaya Beli Buku".

          Sedikit berbagi, coba tanyakan orang tua kalian saat sekolah dulu. Faktanya dulu tidak seperti sekarang yang harus membeli buku, mereka bisa menggunakan buku dari kakak kelas mereka atau sering disebut "turunan" atau "warisan". Ya memang seharusnya seperti itu, coba saja pikir, memangnya apa yang berbeda dari kelas 6 SD tahun lalu dengan kelas 6 SD tahun ini, tahun depan, dan seterusnya sedangkan pendidikan mengacu pada kurikulum yang telah ditetapkan. Maka dari itu kurikulum KTSP dirancang untuk menggantikan kurikulum lama, bukan untuk membuat siswa lebih aktif dalam pembelajaran, tetapi sebagai alibi komersialisme pendidikan dengan dalih : " Udah, kamu beli ini bukunya, kurikulum sekarang beda sama yang dulu ".

          Sekarang dipikir aja deh, bagaimana kurikulum KTSP dibuat dengan tujuan "membuat siswa yang aktif dalam pembelajaran" sedangkan siswa dituntut untuk membeli buku dari sekolah !?. Sebuah standar ganda sistem pendidikan saat ini. Dan ini jelas-jelas komersialisme karena kita tidak boleh membeli buku pelajaran yang sama di tempat yang berbeda (baca:luar sekolah), dan kita terima semua perlakuan itu dan menjadikannya sebuah budaya, kita memang bodoh. :)
          Padahal kemdiknas sendiri sudah menyediakan buku (semua) pelajaran dalam bentuk e-book yang bisa di download secara GRATIS !!! <-- (saya harus mem-bold italic underline + text backgroud kata tersebut agar kalian bisa membacanya) di situsnya yaitu :


          " Lho kok url nya sama semua ? "
          " IYA BIAR LO PADA BACA !!! "

        Kalau memang siswa dituntut lebih aktif, harus nya mereka mengambil referensi dari situ, bukan menyerahkan sejumlah uang dengan jumlah besar yang 3-4 tahun lagi akan menjadi sebuah sampah daur ulang. Gue sadar harusnya pendidikan seperti ini, karena yang membuat lu menjadi pintar ya elu sendiri. Bukan buku yang lu beli, bukan pula guru yang nyuruh elu beli buku.
      Masalah nya cuma di orang tua / wali yang manut sama aturan yang udah2 yang mungkin mereka berpikir " udahlah kita mah ngikut aja ". Lebih milih legowo dengan sistem rusak daripada harus capek sedikit untuk perubahan yang mengarah pada kebaikan, itu sama kaya hidup di orde baru dimana alm. Soeharto menjabat dan budaya KKN menjamur tapi mereka berpikir " udahlah kita mah ngikut aja ".

          Sekian dulu tulisan gue, karena adek gue mau maen di ni leptop. Harusnya anak kelas 5 SD itu maen templak di jalanan depan rumah tapi gara-gara hari makin panas ya sudahlah, pokoknya yang jadi concern gue di tulisan ini :

          " Seharusnya pendidikan seperti ini !"

Tidak ada komentar: