Now Playing : Sheila on 7 - Bertahan Disana *sambil membersihkan debu blog*
Semua ini diakibatkan komputer warnet yang tidak bisa membaca data di handphone Samsung saya yang murah tapi bukan replika, wacana mengirim tugas via e-mail pupus sudah. Tapi apadaya kebiasaan nge-warnet yang ditanam sejak SMP tidak membuat saya lantas pulang dan tidur meskipun 4 jam dari sekarang saya harus masuk kerja.
Tidak terasa sudah dua tahun saya menjalani hidup sebagai mahasiswa, dua tahun adalah waktu yang singkat, mengingat sekarang saya masih belum jadi apa-apa dan siapa-siapa. Belum pula menikah apalagi punya gandengan, hanya Jupiter MX tahun 2006 yang setia menemaniku melalangbuana menjalani hari-hari di kota Bekasi yang panas terik ini.
Pencarian jati diri memang tidak ada habisnya, bahkan dua tahun kuliah pun saya tetap merasa kosong, dan tidak tahu harus berbuat apa kelak. Namun kali ini di umur yang sudah kepala dua saya merasa sangat bersemangat, semangatnya seperti saat rela bangun pagi supaya bisa sampai STM dengan membawa nasi uduk untuk tambahan uang jajan lima tahun silam.
Kenapa saya bersemangat di semester V ? karena IPK saya semester IV mengalami peningkatan dibandingkan semester sebelumnya dari 2.0 menjadi 2.2 layaknya aplikasi yang baru di-update. Setahun kebelakang merupakan kurva terburuk perkuliahan yang saya jalani. Yah namanya manusia yang mengalami pasang surut semangat.
FYI, saya berkuliah di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya Kampus II Bekasi angkatan 2012, sambil bekerja sebagai SPM di Lottemart Cibitung dan Cikarang sejak Mei 2014. Gak capek kerja sambil kuliah? ya capek lah. Tapi itulah seninya. Pada dasarnya dalam hidup ini ada unsur yang saya sebut 3C, yaitu "Cita-Cita, Cerita, dan Cinta". Kenapa Cinta ditaruh paling akhir, nanti saya ceritakan tapi sebelum itu mari merujuk ke cita-cita :
CITA-CITA
"Cita-citaku, uwuwuwuu .. ingin jadi profesor. Bikin pesawat terbang, seperti Pak Habibie"
Joshua Suherman, yang akhirnya jadi artis nanggung
Semakin dewasa, manusia menyempitkan cita-citanya karena harus melihat keadaan secara realis namun oportunis. Kalian bisa bermimipi menjadi apa saja pada saat kecil. Jadi dokter, polisi lalu lintas, astronot, atau dokter yang mengatur lalu lintas di luar angkasa. Ketika kalian lulus SMA sederajat setelah mengalami terpaan pendidikan berkurikulum komersial selama 12 tahun. Cita-cita kita menyempit menjadi "pengen punya motor vixion", walaupun memang tidak semua manusia akan berpikiran seperti itu. Saya percaya ada jutaan manusia yang berusaha membuat hidupnya lebih baik. Namun Tuhan Maha Adil, dengan tidak memukul rata semua kemampuan manusia dalam meraih asa. Kalau saja sukses itu mudah maka apa artinya hidup dengan rintangan.
Saya hidup tanpa cita-cita, karena cita-cita saya adalah menemukan cita-cita. 21 tahun hidup di bumi dan masih berangan untuk menjadi ini-itu, tertarik dengan semua hal yang menyenangkan sampai-sampai tidak tahu apa yang membuat saya benar-benar senang. Video Game, Musik, Film, semua yang berbau hiburan adalah hal yang saya senangi dan akan saya raih dengan berbekal Ijazah STM Teknik Permesinan dan Pengalaman kerja di retail selama 1 tahun. Gak ada nyambungnya sama sekali!, tapi disitulah seninya.
Kuliah dengan mengambil jurusan Broadcast di Fakultas Ilmu Komunikasi, dengan harapan saya makin mengerti dan mempunyai tempat penyaluran hobi terutama dalam sinematografi dan penyiaran. Yang saya sendiri melihat titik cerah di semester V karena ada dua dosen yang membuat saya bersemangat yaitu :
Pak Novrian (Novri/Rian) (bebas aja mau manggil apa)
Beliau adalah dosen mata kuliah Editing, Produksi Acara Televisi Fiksi dan Non-Fiksi yang punya pemikiran kontra-kapitalis dan cara mengajar yang sungguh aduhai, karena saya tidak perlu mencatat apa-apa yang disampaikan oleh beliau, cocok untuk saya yang pemalas. Beliau percaya bahwa ilmu yang baik adalah yang masuk ke otak, terekam secara faham. Dan yang membuat saya senang yaitu beliau bercerita pernah menjadi SPB di Matahari Mall Arion, entah kenapa mengetahui dosen yang senasib membuat saya jadi tergugah, karena saya sadar yang saya jalani ini hanya awalan saja, belum ada apa-apanya. Sukses untuk beliau.
Pak Bagus Sudarmanto
Di semester VI dosen yang satu ini pernah mengajari mata kuliah Teknik Wawancara dan Investigasi yang membawa anak-anak menjadi bersemangat dalam sebuah mata kuliah yang menarik. Beliau percaya bahwa praktek itu penting, teori tanpa praktek tidak akan menjadi apa-apa. Dan di semester ini beliau kembali mengisi mata kuliah Manajemen Media Massa, dengan pengalamannya sebagai wartawan Pos Kota tidak diragukan lagi wawasannya sangat mumpuni. Beliau juga menyemangati mahasiswa sesuai mandat rektor untuk melanjutkan perkuliahan ke S2. Kenapa harus ? karena belajar itu menyenangkan, dan manusia adalah makhluk yang senantiasa belajar, begitulah kurang lebih katanya yang membuat kami meniti tujuan hidup setaham demi setahap namun konstan meningkat.
Pak Sujud (panggil saja Pak Pay)
Dosen Semiotika, gondrong sebahu klimis, belum menyentuh 30 tahun. Dari cara beliau mengajar tentang semiotika dilihat dari sisi filsuf dan epistemologi sekali lagi menggugah hati atas ilmu semiotik yang ternyata cakupannya sangat luas bahkan bisa setara luas dengan komunikasi. Semiotika adalah ilmu yang mempelakari tentang tanda, sedangkan tanda ada dimana-mana, bahkan kita bermimpi dalam tidur juga merupakan sebuah tanda. Beliau menjabarkan bahwa dosen adalah rujukan untuk mahasiswanya, maka di pertemuan pertama beliau membawa delapan lebih buku tentang semiotika. Sontak mahasiswa pasti merasa malu karena boro-boro kita membawa buku ke kampus. Saya pun mengakui bahwa saya adalah mahasiswa lemah rujukan karena jarang membaca. Beliau sekali lagi mengingatkan secara implisit bahwa proses belajar itu amatlah menyenangkan.
Pak Helza (panggil saja Ubang)
Dosen Fotografi. Walaupun tidak mengajar di kelas saya, Beliau adalah seorang manusia yang melihat keresahan di kampus Ubhara Jaya dan akhirnya mendirikan komunitas fotografi dan film karena merasa mahasiswa belum memiliki wadah aktual untuk menyalurkan aspirasi di bidang tersebut. Saya sendiri yang secara tidak sengaja nimbrung di perkumpulan yang saya kira hanya belajar jeprat-jepret, akhirnya harus mendalami ilmu untuk menjadi Sutradara atau Director karena kecebur. Pas sekali momentumnya. Intinya semester ini Worth It ! Semoga saja ini merupakan titik terang atas cita-citaku.
CERITA
Dua tahun belakangan, saya berusaha mati-matian menjadi mahasiswa seutuhnya walaupun harus kebentur kerja. Namun saya bersyukur karena hal ini, saya terbiasa dengan gap-gap yang ada dan berusaha untuk membuatnya menjadi kecil bahakan menghilangkannya kalau perlu. Kalau kerja pagi, kuliah sore, kalau kerja siang, kuliah pagi. Gitu aja modelnya selama dua tahun walaupun ada masa menganggur dan karena itu jadi bisa full di kampus. Awalnya kupikir dengan tidak bekerja bisa membuatku lebih produktif di kampus, ternyata tidak. Karena tidak bekerja > tidak ada pemasukan > tidak ada uang > tidak ada pergerakan > membusuk di rumah. Hingga akhirnya saya berusaha mencari dan dapatlah di tempat kerja yang sekarang ini. Meskipun dalam akhir semester V nanti saya akan menjalani masa-masa KKP dan mengharuskan untuk resign dari pekerjaan karena harus mendapatkan tempat KKP yang sesuai dengan penjuruan.
Satu hal yang saya tangkap selama dua tahun ngampus adalah "Hal minimal yang kalian dapatkan di kampus adalah teman". Meskipun anda sangat jarang mengikuti mata kuliah, tapi Universitas adalah tempat dimana orang-orang unggul dengan sejuta cerita yang menarik untuk didengar. Kita tidak tahu siapakah yang akan menolong kita di keesokan hari, maka kenal banyak orang di kampus itu adalah anugerah. Dan kita akan selalu merasa lelah, karena selalu ada kata "gerah" di dalam kata "anugerah". Atau jangan-jangan "anugerah" itu maksudnya "anu" nya "gerah".
Kelemahan kuliah sambil bekerja itu adalah membangun hubungan intens antar perkawanan di kampus, karena pada aktualnya 1/3 dari hidup kita habis untuk dunia kerja, dan kita pun akan merasa sulit mendapatkan sahabat layaknya masa-masa SMA, tapi karena sulit lah kita akan lebih menghargai apa yang kita punya.
Apanya yang membuat semangat di semester V ? Mahasiswa semester V adalah kandidat-kandidat yang memungkinkan mereka untuk menjabat sebagai Presma Fakultas. Walaupun saya beranggapan kalau politik itu omong kosong, namun berorganisasi itu menyenangkan, padahal dalam organisasi pasti ada politik, fiuh. Dan saya diminta maju untuk hal ini, duh serasa seperti jaman STM kembali dimana saya menjabat sebagai sekretaris OSIS dengan idealisme anak STM yang bebas sopan bertanggungjawab hingga membawa para siswa menghadap Kepala Sekolah karena SPP naik 25 ribu, hahaha. Entah kenapa hasrat untuk melayani (lebih nyaman dengan kata melayani daripada pemimpin) mahasiswa terutama Fikom muncul, setelah menjadi anggota KPR dan panitia Ospek disela-sela saya yang sambil bekerja. Sepertinya semester ini akan memberikan banyak warna dan corak, ditambah solidaritas rekan-rekan angkatan 2012 yang semakin mengerucut kecil namun padat kokoh, ada optimisme didalam perjalanan ini, optimis untuk maju bersama dan berjuang bersama menemukan jalan-jalan baru untuk menuju satu titik yaitu kesuksesan yang kelak memaksa kita untuk terus menanjak lagi. Sukses untuk Fikom Ubhara Jaya angkatan 2012!
CINTA
Ini ironis, karena terakhir mengajak kencan wanita itu pada tahun 2012 sebelum perkuliahan, berarti hati ini hampir berkarat selama dua tahun, waktu yang dirasa cukup untuk melunasi sebuah kredit motor. Persepsi akan kebahagiaan bercinta pun mulai berubah, tapi hal yang terpenting adalah orientasi seks yang tidak berubah bahkan cenderung menyimpang haha, itu hal yang berbahaya terkait terpaan globalisasi dan pergaulan bebas masa kini.
Ada satu sahabat wanita yang secara kebetulan memiliki garis keturunan yang serupa yaitu Jogja - Palembang yang belakangan ini gencar-gencarnya ngatain saya homo karena selama dua tahun perkuliahan tidak pernah melihat saya dekat dengan wanita manapun, menyebalkan sekali. Sebut saja Farial Renata, a.k.a Farel. Tapi jauh dari lubuk hati ada perasaan mengiyakan dan berfikir "mau sampai kapan" selalu membatasi diri dan menganggap pacaran hanya akan menambah beban pikiran saja. Memang pacaran akan menambah beban pikiran anda, namun artinya itu menambah kapasitas dalam menampung beban, masuk akal.
Idealisme saya yang tidak mementingkan status pacaran mulai goyah namun perlahan solid (nah gak ngerti kan maksudnya apa, saya juga). Anggap saja ini dua sisi yang saling bertolakbelakang namun merupakan sebuah kesatuan seperti sebuah koin. Memangnya status buat apa sih? buat masang foto bareng di social media kah? atau bio twitter kah? bukankah tujuan dari ini semua adalah saling mengenal satu sama lain dan mengetahui sisi gelap dari bersinarnya pujaan hatimu. Karena pacaran cenderung menampilkan hal-hal positifnya saja layaknya pencitraan dalam kaidah Public Relations, dan baru terasa setelah titik jenuh itu muncul.
Etapi ... ternyata banyak teman-teman kampus yang berpacaran dan langgeng sampai detik saya menulis blog ini. Mereka adalah Ari-Winda, Ridwan-Yuyun, Adit-Fajar, Heri-Micha, Bayu-Ani walaupun si Fajar, Micha, dan Ani tidak kuliah di Bhayangkara. (Sengaja saya tuliskan nama sebagai bentuk apresiasi terhadap kalian para pelaku cinta yang saya harap lanjut ke next level yaitu marriage) Tidak seperti halnya Farel, wanita yang suka gonta-ganti pacar tapi setia sama mantannya yang di Jogja itu hahaha. Mereka menginspirasi. "Kapan saya seperti mereka?", mengingat umur sudah kepala dua dan kisah cinta tidak lagi seklasik saat jaman sekolah. Ternyata lebih pelik adanya, ada yang ditinggal nikah, hamil diluar nikah, hamil terus ditinggal, aduh jangan deh. Janda anak satu, Duda pengangguran, apalah itu status yang memposisikan kita sebagai manusia yang bermain peran dalam skenario Tuhan.
Mulai berpikir cara dapet uang sampingan, buka usaha, cari-cari informasi kredit rumah, padahal mah yang buat ngurus rumahnya mah belum punya, duh. Tumbuh dewasa itu memang kewajiban, karena kita tidak pernah bisa membalas kebaikan orangtua kita sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menjadi orangtua. Jauh amat pak udeh mikirin gituan aja, nikmatin masa mudanya kapan? Sedang berlangsung kok, hidup adalah seni merajut estetika progres yang berujung kematian. Kita semua akan mati, tapi yang membuat kita bahagia adalah cara kita menjalani hidup. Banyak yang memilih menikah muda, banyak juga yang begajulan sampai umur 25, tidak ada yang salah karena semua pilihan itu membahagiakan, tapi semua pilihan memiliki konsekuensi yang tidak bisa kamu tolak seperti rasa sakit ketika kulit kamu kena sundutan rokok. Apapun yang terjadi dengan kisah cintaku di semester V ini, ini adalah proses pendewasaan yang berarti, yaa ... nemu gak nemu yang penting hepi aja!
Waw, saya mengetik sampai pukul 04.00 ternyata, berarti dua jam lagi sebelum berangkat kerja dan belum tidur sama sekali, who cares. Intinya saya bersemangat dalam semester ini dan berharap pasti akan aku yang selalu maju menerobos apa yang disebut tembok pembatas, untuk menembus tembok pembatas di depannya lagi, sampai lelah, sampai punah. Mungkin dua tahun mendatang tulisan ini cukup alay untuk dibaca, saat aku tengah memegang toga dan wisuda, saat aku menggandeng gelar sarjana, saat keluargaku akhirnya berkumpul kembali untuk memenuhi sesi pemotretan anaknya, mungkin aku sudah punya kekasih, atau sudah kredit rumah hehe. Biarkan harapan ini tumbuh dan akhirnya yang berharap terbunuh. Dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan yang dibuat tanpa dasar, hanya ekspresi diri dan menghargai blog yang saya punya :)
Mulai berpikir cara dapet uang sampingan, buka usaha, cari-cari informasi kredit rumah, padahal mah yang buat ngurus rumahnya mah belum punya, duh. Tumbuh dewasa itu memang kewajiban, karena kita tidak pernah bisa membalas kebaikan orangtua kita sehingga satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menjadi orangtua. Jauh amat pak udeh mikirin gituan aja, nikmatin masa mudanya kapan? Sedang berlangsung kok, hidup adalah seni merajut estetika progres yang berujung kematian. Kita semua akan mati, tapi yang membuat kita bahagia adalah cara kita menjalani hidup. Banyak yang memilih menikah muda, banyak juga yang begajulan sampai umur 25, tidak ada yang salah karena semua pilihan itu membahagiakan, tapi semua pilihan memiliki konsekuensi yang tidak bisa kamu tolak seperti rasa sakit ketika kulit kamu kena sundutan rokok. Apapun yang terjadi dengan kisah cintaku di semester V ini, ini adalah proses pendewasaan yang berarti, yaa ... nemu gak nemu yang penting hepi aja!
Waw, saya mengetik sampai pukul 04.00 ternyata, berarti dua jam lagi sebelum berangkat kerja dan belum tidur sama sekali, who cares. Intinya saya bersemangat dalam semester ini dan berharap pasti akan aku yang selalu maju menerobos apa yang disebut tembok pembatas, untuk menembus tembok pembatas di depannya lagi, sampai lelah, sampai punah. Mungkin dua tahun mendatang tulisan ini cukup alay untuk dibaca, saat aku tengah memegang toga dan wisuda, saat aku menggandeng gelar sarjana, saat keluargaku akhirnya berkumpul kembali untuk memenuhi sesi pemotretan anaknya, mungkin aku sudah punya kekasih, atau sudah kredit rumah hehe. Biarkan harapan ini tumbuh dan akhirnya yang berharap terbunuh. Dan terimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan yang dibuat tanpa dasar, hanya ekspresi diri dan menghargai blog yang saya punya :)
Yoga Pratama
Membocah dalam kedewasaan
