Jumat, 18 Januari 2013

Tuhan atau Perusahaan


Lupakan tentang mitos kalo sholat Jum'at itu bikin ganteng, gue mau ngomong serius.
Sholat Jum'at biar ganteng, mitos yang dibuat oleh para wanita Pemberi Harapan Palsu terhadap para laki-laki yang muka nya nggak pasaran (re:gagal menembus pasar) supaya rajin beribadah, dalam pepatah lama ini dikenal dengan istilan "berbohong demi kebaikan". Oh iya kenapa gue bahas juga ya -__-"

Hari ini hari Jum'at, tepat di kantin tempat gue kerja (13.45), mengisi waktu luang buat autis di depan hape emang sebuah opsi yang aneh disaat semua orang lebih memilih buat makan. Lagian gorengan+dagangan emak gue macem Cha-Cha sama Coki-Coki udah abis sama gue semua. Dan fyi, jangan kebanyakan makan Sosis So Nice, pengawet nya bisa bikin amandel lho .. #OOT .

Kalau Rosululloh S.A.W. pernah bersabda bahwa "kelalaian kita dalam beribadah merupakan aib", maka aib gue hari ini adalah gue nggak Sholat Jum'at. Bukan merupakan sebuah bentuk protesi akan mitos kalau Sholat Jum'at biar ganteng, but seems not feels so strange when I miss it. Gue nggak Jum'atan karena gue kudu jaga toko, jadi karena nggak Jum'atannya gue ada satu atau dua rekan kerja gue yang bisa Jum'atan hari ini, some sacrifice needed in this place. Balada karyawan emang selalu diliputi aturan jam kerja yang terkadang menyita waktu untuk beribadah, apalagi sampai menghalangi secara halus.

Kira-kira Agustus 2011 yang lalu, gue sempet bekerja di sebuah pt pipa yang-nama-nya-tidak-perlu-saya-sebut karena gue yakin semua perusahaan produksi massal pasti tidak jauh-jauh seperti ini. Gue bekerja di bagian Dies Setter/Tooling dimana kerja gue adalah bagian persiapan produksi. Pipa yang memiliki beberapa ukuran pasti memiliki beberapa cetakan atau yang disebut dengan 'Dies', nah gue bekerja di bagian nyetting ntu benda. Salah satu keuntungan yang gue miliki adalah jam kerja gue yang non-shift dimana secara rutin masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, untuk hari Sabtu pulangnya jam 2 sore untuk memenuhi standar kerja 40 jam/minggu. Dari 9 anak STM yang lolos seleksi di pt itu, gue tergolong beruntung karena satu-satunya penempatan di non-shift, yang lain kena shift. Dan di hari Jum'at, mereka para pekerja shift yang dituntut bekerja 8 jam/hari tidak memiliki waktu untuk sholat Jum'at, dengan dalih produksi tidak bisa ditinggalkan. Ya memang ekstrusi pipa akan berjalan terus dan harus ada yang mengawasi. Dan loss time yang didapat apabila perusahaan membiarkan jam istirahat Jum'at dan memulai produksi pada pukul 12.30 dimana merupakan pukul selesainya Sholat Jum'at tentu sangat besar, karena butuh 1/2 jam lagi untuk memanaskan Dies ke suhu 250 derajat Celcius yang merupakan titik leleh plastik. Apakah perusahaan merelakan waktu yang hilang itu, oh tentu tidak. Pepatah 'time is money' terasa melekit pada kasus ini. Pada awalnya ada rasa tidak enak hati karena meninggalkan sebuah Ibadah wajib untuk laki-laki muslim, but everybody's change. Percaya atau tidak mereka akan membiasakan diri dengan peraturan itu sambil berkata "tak apalah empat Bulan sekali tidak Sholat Jum'at, toh Tuhan itu Maha Pemaaf", entah itu benar atau karena keeksistensiannya diragukan.

Di toko tempat ku bekerja ini pun sama, pada hari Jum'at Buka puku 8 pagi dan tutup pukul 9 malam. Tak bisakah kau beri 1/2 jam saja untuk close order agar ras Adam ini dapat sejenak beribadah ? Toh kau sudah mengurangi target omzet karena faktor hari Jum'at itu hari sepi bukan. Tapi ya begitulah, Pancasila yang kita anut dan kita ikrarkan kelima dasar nya sejak SD saat upacara bendera ya hanyalah Pancasila sebagai wacana. Kapitalis menang disini, setelah banyak berdirinya Mall-mall di negeri ini terutama kota Bekasi dimana terdapat empat Mall besar yang berada kurang dari radius 1 km.

Tapi apakah kau mau menyalahkan sistem yang sudah ada ? Tentu tidak bisa. Dalam setiap perusahaan selalu ada serikat kerja, dan peraturan yang dimiliki oleh perusahaan itu pastilah merupakan hasil persetujuan oleh kedua belah pihak. Artinya pendahulu kita memang tidak pernah keberatan dengan sakral nya hari Jum'at, ya perduli setan, aku memang tidak tau menau, mungkin juga mereka. Dan bahkan mereka pun berlindung dibalik dalil dimana "Laki-laki dinyatakan hilang keislamannya (murtad) apabila tidak sholat Jum'at selama tiga kali secara berturut-turut". Jadi kalo sholat Jum'at nya seminggu iya seminggu enggak, saya masih Islam dong?. Ya kalo situ yakin Tuhan tertawa karena peraturan yang dibuat-Nya ternyata memiliki celah untuk dilanggar,ya silahkan. Karena pada nyatanya orang yang tahu agama jadi tidak tahu agama karena dalil ini. Saya sendiri tidak tahu apa pandangan Islam liberal terhadap dalil ini, kalau dicerna secara logika ya sudah terang.

Tinggal pilih, melanggar peraturan Tuhan, atau peraturan Perusahaan. Lebih takut dihukum Tuhan, atau dihukum atasan. Kebanyakan sih pasti lebih takut sama atasan karena atasan itu makhluk nyata yang wujudnya terlihat serta hukumnya jelas, mungkin SP atau bisa jadi PHK. Kalau Tuhan, walaupun anda mencaci nya sambil menatap langit, belum tentu dia akan menurunkan hujan meteor saat itu juga kepada kamu. Anda bilang saya ngajarin yang nggak bener? Untuk yakin akan sesuatu, seseorang emang harus melewati fase yang disebut dengan "ragu" (@pandji). Hidup ini masalah pilihan, jadi, gutlak yah. Lanjut gawe dulu ah, jam istirahat udah abis :)