Lupakan tentang mitos kalo sholat Jum'at itu bikin ganteng,
gue mau ngomong serius.
Sholat Jum'at biar ganteng, mitos yang dibuat oleh para
wanita Pemberi Harapan Palsu terhadap para laki-laki yang muka nya nggak
pasaran (re:gagal menembus pasar) supaya rajin beribadah, dalam pepatah lama
ini dikenal dengan istilan "berbohong demi kebaikan". Oh iya kenapa
gue bahas juga ya -__-"
Hari ini hari Jum'at, tepat di kantin tempat gue kerja
(13.45), mengisi waktu luang buat autis di depan hape emang sebuah opsi yang
aneh disaat semua orang lebih memilih buat makan. Lagian gorengan+dagangan emak
gue macem Cha-Cha sama Coki-Coki udah abis sama gue semua. Dan fyi, jangan
kebanyakan makan Sosis So Nice, pengawet nya bisa bikin amandel lho .. #OOT .
Kalau Rosululloh S.A.W. pernah bersabda bahwa
"kelalaian kita dalam beribadah merupakan aib", maka aib gue hari ini
adalah gue nggak Sholat Jum'at. Bukan merupakan sebuah bentuk protesi akan
mitos kalau Sholat Jum'at biar ganteng, but seems not feels so strange when I
miss it. Gue nggak Jum'atan karena gue kudu jaga toko, jadi karena nggak
Jum'atannya gue ada satu atau dua rekan kerja gue yang bisa Jum'atan hari ini,
some sacrifice needed in this place. Balada karyawan emang selalu diliputi
aturan jam kerja yang terkadang menyita waktu untuk beribadah, apalagi sampai
menghalangi secara halus.
Kira-kira Agustus 2011 yang lalu, gue sempet bekerja di
sebuah pt pipa yang-nama-nya-tidak-perlu-saya-sebut karena gue yakin semua
perusahaan produksi massal pasti tidak jauh-jauh seperti ini. Gue bekerja di
bagian Dies Setter/Tooling dimana kerja gue adalah bagian persiapan produksi.
Pipa yang memiliki beberapa ukuran pasti memiliki beberapa cetakan atau yang
disebut dengan 'Dies', nah gue bekerja di bagian nyetting ntu benda. Salah satu
keuntungan yang gue miliki adalah jam kerja gue yang non-shift dimana secara
rutin masuk jam 8 pagi dan pulang jam 4 sore, untuk hari Sabtu pulangnya jam 2
sore untuk memenuhi standar kerja 40 jam/minggu. Dari 9 anak STM yang lolos
seleksi di pt itu, gue tergolong beruntung karena satu-satunya penempatan di
non-shift, yang lain kena shift. Dan di hari Jum'at, mereka para pekerja shift
yang dituntut bekerja 8 jam/hari tidak memiliki waktu untuk sholat Jum'at,
dengan dalih produksi tidak bisa ditinggalkan. Ya memang ekstrusi pipa akan
berjalan terus dan harus ada yang mengawasi. Dan loss time yang didapat apabila
perusahaan membiarkan jam istirahat Jum'at dan memulai produksi pada pukul
12.30 dimana merupakan pukul selesainya Sholat Jum'at tentu sangat besar,
karena butuh 1/2 jam lagi untuk memanaskan Dies ke suhu 250 derajat Celcius
yang merupakan titik leleh plastik. Apakah perusahaan merelakan waktu yang
hilang itu, oh tentu tidak. Pepatah 'time is money' terasa melekit pada kasus
ini. Pada awalnya ada rasa tidak enak hati karena meninggalkan sebuah Ibadah
wajib untuk laki-laki muslim, but everybody's change. Percaya atau tidak mereka
akan membiasakan diri dengan peraturan itu sambil berkata "tak apalah
empat Bulan sekali tidak Sholat Jum'at, toh Tuhan itu Maha Pemaaf", entah
itu benar atau karena keeksistensiannya diragukan.
Di toko tempat ku bekerja ini pun sama, pada hari Jum'at
Buka puku 8 pagi dan tutup pukul 9 malam. Tak bisakah kau beri 1/2 jam saja
untuk close order agar ras Adam ini dapat sejenak beribadah ? Toh kau sudah
mengurangi target omzet karena faktor hari Jum'at itu hari sepi bukan. Tapi ya
begitulah, Pancasila yang kita anut dan kita ikrarkan kelima dasar nya sejak SD
saat upacara bendera ya hanyalah Pancasila sebagai wacana. Kapitalis menang
disini, setelah banyak berdirinya Mall-mall di negeri ini terutama kota Bekasi
dimana terdapat empat Mall besar yang berada kurang dari radius 1 km.
Tapi apakah kau mau menyalahkan sistem yang sudah ada ?
Tentu tidak bisa. Dalam setiap perusahaan selalu ada serikat kerja, dan
peraturan yang dimiliki oleh perusahaan itu pastilah merupakan hasil
persetujuan oleh kedua belah pihak. Artinya pendahulu kita memang tidak pernah
keberatan dengan sakral nya hari Jum'at, ya perduli setan, aku memang tidak tau
menau, mungkin juga mereka. Dan bahkan mereka pun berlindung dibalik dalil
dimana "Laki-laki dinyatakan hilang keislamannya (murtad) apabila tidak
sholat Jum'at selama tiga kali secara berturut-turut". Jadi kalo sholat
Jum'at nya seminggu iya seminggu enggak, saya masih Islam dong?. Ya kalo situ
yakin Tuhan tertawa karena peraturan yang dibuat-Nya ternyata memiliki celah
untuk dilanggar,ya silahkan. Karena pada nyatanya orang yang tahu agama jadi
tidak tahu agama karena dalil ini. Saya sendiri tidak tahu apa pandangan Islam
liberal terhadap dalil ini, kalau dicerna secara logika ya sudah terang.
Tinggal pilih, melanggar peraturan Tuhan, atau peraturan
Perusahaan. Lebih takut dihukum Tuhan, atau dihukum atasan. Kebanyakan sih
pasti lebih takut sama atasan karena atasan itu makhluk nyata yang wujudnya
terlihat serta hukumnya jelas, mungkin SP atau bisa jadi PHK. Kalau Tuhan,
walaupun anda mencaci nya sambil menatap langit, belum tentu dia akan
menurunkan hujan meteor saat itu juga kepada kamu. Anda bilang saya ngajarin
yang nggak bener? Untuk yakin akan sesuatu, seseorang emang harus melewati fase
yang disebut dengan "ragu" (@pandji). Hidup ini masalah pilihan,
jadi, gutlak yah. Lanjut gawe dulu ah, jam istirahat udah abis :)