Yap, lagu itu emang paling asik buat nemenin baca postingan gue karena emang lagi enak-enak nya. Gue cuma mau flashback satu tahun yang lalu dimana gue masih bekerja si sebuah perusahaan yang menjanjikan gue buat jadi karyawan tetap. Dan dalam masa kerja Agustus - Nopember 2011 hingga akhirnya kontrak percobaan gue diperpanjang, gue lebih memilih mengundurkan diri (resign).
Dengan mengembalikan sepatu safety yang baru gue pake 1 minggu dengan kardus-kardus nya, trus gue ketemu dengan personalia nya, yang merekrut kami 10 anak STM 1 Cibitung dan membuat surat resign di tempat. Dari 10 orang termasuk gue, 1 orang udah jadi kartap, 1 orang kontrak percobaannya diperpanjang (dan akhirnya jadi kartap di bulan ke-6), 7 orang tidak perpanjang kontrak, 1 orang perpanjang kontrak percobaan tapi malah dateng ke PT ngebalikin sepatu safety buat resign, dan itu gue.
Hingga akhirnya gue berpamitan dengan kawanan Dies Setter PE/PPR, departemen yang isi nya cuma 3 orang yaitu Foreman gue (sebut saja Aki-aki), senior gue, sama gue. Departemen yang kerja nya non-shift sendiri, dimana lu cuma bisa nikmatin indahnya dunia luar pada malam hari, khawatir kalo hari Minggu nya kepake buat lembur. Saat berpamitan ada omongan yg keluar dari Foreman gue : "3 bulan nggak cukup buat nilai orang, si Ade aja (senior gue) setahun baru saya lepas". That's a right statement with a wrong implementation. Beberapa pekerjaan memang nggak bisa dipukul rata 3 bulan langsung keliatan bener nya, karena pekerjaan di bagian gue juga banyak hal yang harus dipelajari dibandingkan seorang penjaga warehouse.
Kalo kontrak nya satu tahun sih, mungkin tulisan blog ini nggak akan keluar, mungkin juga blog-blog sebelumnya nggak akan ada. Kontrak tiga bulan itu sebuah dilema dimana ada waktu untuk memikirkan hal-hal yang mungkin nggak usah dipikirin. Gue memilih resign karena tuntutan lemburnya nggak bisa nolak (baca: nolak lembur = unproffesional). Nggak kebayang kalo kuliah gue terbengkalai karena ikut lembur dan nggak ada keinginan nolak karena jiwa gue yang masih terbiasa berada dibawah tekanan birokrat yang udah ketanem 12 tahun. Sebuah shock moment juga sih sebenernya ketika gue resign, nggak nyangka aja gue bisa begitu. Gue yang biasanya manut akhirnya memilih keputusan tapi nggak pikir panjang, itulah gue dengan kelemahan gue.
Terlepas dari itu, ada kebaikan-kebaikan yang gue rasa setelah gue resign dari situ. Senior gue diangkat jadi kartap, bahkan sampe blog ini gue tulis gue blon kabar-kabaran lagi sama dia. Sewaktu gue kerja mungkin prioritas kartap ada di tangan gue karena gue kontrak langsung dengan perusahaan sedangkan senior gue kontrak outsourching koperasi karyawan. Kalo harus milih sih ya mendingan dia, dia udah punya bini dan 3 tahun kerja disitu dengan skill yang mumpuni tapi nggak ada kejelasan kontrak. Gue ada keyakinan kalo gue masih muda dan masih gampang buat berkembang jadi aku keluar saja.
Kedua, ya shock moment itu tadi. Gue nggak nyangka bisa begitu, dan untuk kehidupan seterusnya gue nggak nyangka bisa begini, hingga akhirnya gue nggak nyangka bisa kesulitan dapet kerja lagi :| . Banyak hal-hal yang gue dapet setelah gue resign. Yang gue ikutan flashmob lah, yang gue jadi mikirin cewe lah, sampe gue bisa gabung dengan komunitas Stand Up ya gue yakin karena gue resign dari kerjaan itu. Karena kalo nggak ya gue zona nyaman, karena sepengalaman gue pas kerja di Wavin (tempat kerja pertama) ya monoton aja. Dan gue yang sekarang juga karena gue resign dari situ, semacam bandul besar yang menghantam kepala yang bikin orang amnesia.
*ganti backsound : Lagu Cepat!*
Dan ketika gue kuliah, gue banyak menemukan orang yang hebat dalam pekerjaannya yang usia nya jauh di atas gue (paling 3 tahun doang sih). Dimana mereka membawa pedang di tangan kiri nya disaat mencoba meraih sesuatu dengan tangan kananya. Dan gue berada disini dengan tangan kosong, leluasa namun lemah. Gue harusnya bisa seperti mereka andaikata gue nggak mencoba mengembalikan sepatu safety tersebut dengan surat resign, gue harusnya nggak pusing ketika ditanya "kerja dimana?", gue harusnya nggak pusing mengatur keuangan karena punya penghasilan bulanan pasti, gue harusnya nggak ngerepotin orang tua lagi dan bisa bantu adek gue yang nerusin sekolahnya ke SMEA.
Tapi gue punya banyak waktu dibandingkan mereka, gue punya lebih banyak pikiran dibandingkan mereka. Gue lebih punya dunia dibandingkan mereka yang 1/3 dalam hari nya habis untuk perusahaan. Gue lebih punya sedikit uang daripada mereka hingga akhirnya otak ini berpikir keras gimana caranya gue bisa muter ini benda bergambar pahlawan dengan nominal tertentu. Gue lebih ngerepotin orang tua gue daripada mereka sehingga gue nggak punya hal yang harus gue sombongin.
Sebenernya daripada kelebihan, lebih tepatnya itu pembelaan atas nganggurnya gue hehe. Do'ain aja gue dapet kerja biar agak sedikit aman. Kita yang sekarang adalah bentukan atas keputusan-keputusan kita di masa lalu. Gue emang bukan orang yang berpikir panjang, andaikata 1 tahun yang lalu adalah keputusan yang salah, gue anggap itu adalah suatu keharusan. Gue pernah salah sehingga gue tau gimana yang bener :)
Tapi gue punya banyak waktu dibandingkan mereka, gue punya lebih banyak pikiran dibandingkan mereka. Gue lebih punya dunia dibandingkan mereka yang 1/3 dalam hari nya habis untuk perusahaan. Gue lebih punya sedikit uang daripada mereka hingga akhirnya otak ini berpikir keras gimana caranya gue bisa muter ini benda bergambar pahlawan dengan nominal tertentu. Gue lebih ngerepotin orang tua gue daripada mereka sehingga gue nggak punya hal yang harus gue sombongin.
Sebenernya daripada kelebihan, lebih tepatnya itu pembelaan atas nganggurnya gue hehe. Do'ain aja gue dapet kerja biar agak sedikit aman. Kita yang sekarang adalah bentukan atas keputusan-keputusan kita di masa lalu. Gue emang bukan orang yang berpikir panjang, andaikata 1 tahun yang lalu adalah keputusan yang salah, gue anggap itu adalah suatu keharusan. Gue pernah salah sehingga gue tau gimana yang bener :)
=Fin=